Kisah Sejarah Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Orang yang ditunjuk sebagai pengganti rasul disebut dengan Khulafaur Rasyidin. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Tugas mereka adalah penerus Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin umat Islam, sesuai dengan petunjuk Allah Swt.

Para khulafaur tersebut memiliki jiwa yang besar dalam kepemimpinan. Gaya kepemimpinan empat sahabat Rasulullah Saw ini memiliki cara yang berbeda-beda tetapi mereka saling melengkapi satu sama lain.

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Kisah Sejarah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Yang pertama adalah kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang pemimpin yang jujur dan teguh pendirian dalam menegakkan kebenaran. Ia adalah seorang pemimpin yang tegas. Terbukti karena beliau tanggap dan tegas terhadap gerakan-gerakan yang keluar dari aturan islam.

Selama Muhammad Saw sakit ialah yang menggantikan Nabi Muhammad Saw sebagai imam sholat dan selalu menyertai Nabi dalam berdakwah. Sampai akhirnya Rasulullah Muhammad Saw wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H.

Semenjak wafatnya Rasulullah Saw, keadaan kaum muslim kacau, yang dipicu oleh keberadaan kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin  merasa berhak menggantikan kepemimpinan Rasulullah Saw

Dalam pergantian pemimpin ini terjadi selisih paham antara kaum Muhajirin dan kaum Ansor. Kaum Ansor beranggapan mereka berhak menggantikan posisi Rasulullah Saw, karena selama Rasulullah Saw Hijrah ke Madinah merekalah yang menolongnya.

Dengan persoalan itu  akhirnya Umar bin Khatthab memberikan solusi dan alasan sehingga kaum yang berselisih tersebut dapat reda dan terpecahkan permasalahannya.

Umar bin Khatthab memberikan pendapat yang berhak menggantikan posisi Rasulullah Saw adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mengingat beliau adalah orang yang sering menggantikan Rasulullah dikala sakit. Akhirnya kedua kaum tersebut setuju dan di ikuti oleh semua umat Islam.

***

Pada Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki sikap yang jujur. Sehingga kejujurannya dapat menjernihkan pemikiran musuh-musuh.

Kelembutan hatinya dapat menyadarkan orang-orang yang terpengaruh untuk melakukan perlawanan. Dan ketegasannya dapat meredam orang-orang yang melakukan kekacauan dan pemberontakan.

Dari hal ini, kita dapat mengambil dan mencontoh  sikap kejujuran, kelembutan dan ketegasan Abu bakar Ash-Shiddiq.

loading...

Leave a Reply